“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah
ALLAH dengan memurnikan ketaatan kepada-NYA
dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus.”(QS.
Al-Bayyinah:5)
Secara bahasa ikhlas berasal dari
kata kholasha,
khulushon,
khalashon berarti murni dan terbebas dari kotoran.
Kata ikhlas menunjukkan makna murni,
bersih, terbebas dari segala sesuatu
yang mencampuri dan mengotorinya.
Maksudnya, ikhlas itu mengesampingkan pandangan manusia dengan senantiasa mengarahkan tujuan segala aspek hidupnya hanya kepada
ALLAH SWT.
Dalam upaya mendekatkan diri kepada
ALLAH SWT ini, jangan sampai diabaikan perhatian kita terhadap niat
di hati atas segala amal perbuatan. Benar –benar harus disertai dengan keikhlasan
yang tulus. Mengapa demikian ? Karena
ALLAH SWT hanya akan menerima amal seorang hamba jika amal itu disertai ikhlas karena
ALLAH SWT. Berikut ini rumus
yang bias kita jalankan untuk meraih keikhlasan:
1.
Jangan ingin dilihat
orang lain
Sering kali ketika ada
yang melihat maka ibadahnya lebih khusyuk,
namun jika tidak ada maka ibadah biasa saja. Inilah salah satu penyakit riya.
2.
Jangan ingin diketahui
Bila beramal, cukuplah ALLAH saja yang mengetahui, orang
lain tidak perlu tahu.
Orang-orang tidak tertarik dengan apa
yang kita ceritakan tentang pribadi kita.
Buat apa segala diceritakan,
lalu mau apa ?
Mari belajar untuk menahan diri dari amal – amal
yang lebih baik dirahasiakan saja.
3.
Jangan ingin di puji
Dipuji semangat, tidak dipuji patah semangat. Orang
yang ikhlas tidak berefek ketika adanya pujian atau cacian. Suatu saat
di Malaysia, ada seorang ibu rumah tangga
yang tengah shalat dhuha,
lalu ada telepon
yang masuk, dan yang menerima anaknya. Ibu
yang shalat dhuha merasa bangga disampaikan oleh anaknya bahwa ia tengah dhuha.
Namun, di sore harinya, ia shalat ashar sangat telat hingga menjelang maghrib,
ketika ada telepon masuk,
ia pun merasa malu,
karena takut dicibir
orang karena telat shalat.
ALLAH Maha Tahu hati kita kemana-mana,
orang yang ikhlas dipuji akan merasa malu,
dan ketika ada
yang mencaci tidak merasa sedih,
karena ia tahu caciannya masih lebih baik dari pada dirinya sesungguhnya.
Nafsu saja
yang membuat senang pujian. Padahal pujian hanya sebatas suara.
4.
Jangan ingin dihargai
Diperlakukan istimewa bisa membuat diri lebih sengsara. Biasanya hal ini terjadi pada mereka
yang memiliki jabatan
yang tinggi. Padahal,
sebaiknya kita tidak sibuk mencari pengakuan
orang lain, namun lebih sibuk berusaha mendapatkan penerimaan terhadap kebaikan
yang kita lakukan dari
Allah.
Keinginan diperlakukan istimewa itu bias menjadi ketagihan seperti narkoba. Ia tidak mau kehilangan kekuasaannya.
Takut kehilangan penghormatan,
maka ketika sudah pensiun,
muncullah post power syindrome. Rasul
saw yang sempurna ingin diperlukan biasa – biasa saja.
Rasul saw masuk kemesjid,
tidak ada sahabatnya
yang berdiri. Rasulullah saw saat penakulukkan kota Mekah terlihat merunduk kepala beliau,
tidak merasa sudah menang,
sehingga berlaku sombong.
Kalau kita
di kantor berlagak sombong,
bias jadi karyawan
lain akan mendoakan dirinya di mutasi.
5.
Jangan ingin dibalas budi
Tidak perlu kita berbuat kebaikan kemudian ingin mendapat balas budi,
walau hanya ucapan terima kasih. ALLAH
SWT pasti membalas dengan sempurna. Siapa
yang menjadi jalan,
itu merupakan ujian dari
ALLAH SWT. Tidak bias berbohong
di hadapan ALLAH, tidak boleh tertarik dari apa
pun yang ada di makhluk, mesti lillahita’ala.
Sesungguhnya barang siapa
yang benar – benar murni tulus pasti tidak akan membutuhkan pengakuan atau penilaian apapun dari selain
ALLAH SWT. Bila kita puas hanya dengan penilaian
ALLAH SWT, niscaya akan sangat tentram hatinya.
Sayyidina Ali r.aberkata,
“Seseorang yang lahir dan batinnya,
juga ucapan dan amalnya serasi,
maka dia telah menunaikan amanah Ilahi serta telah melaksanakan ibadah secara ikhlas”
@Al-Mujtahid