Minggu, 16 Oktober 2016

Nutrisi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

Nutrisi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

Nama              : Alfian Konadi
NIM                : 1311113652
Angkatan       :A.2013
Dosen              : Ns. Sri Utami, M.Biomed
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS RIAU

Jurnal 1,
judul; Pertumbuhan Bayi Berat Lahir Rendah yang Memperoleh Susu “Post Discharge Formula” Modifikasi Dibandingkan dengan Susu “Post Discharge Formula” Komersial

Bayi berat lahir rendah (BBLR) memiliki pertumbuhan berat badan (BB), panjang badan (PB) dan lingkar kepala (LK) yang terlambat pada saat keluar dari rumah sakit, sehingga memerlukan nutrisi yang khusus. Bayi berat lahir rendah memerlukan tata laksana nutrisi khusus karena keterbatasan cadangan nutrisi tubuh, termoregulasi yang belum stabil, imaturitas fungsi organ, potensi pertumbuhan cepat, serta risiko tinggi terhadap terjadinya morbiditas.1-7 Bayi prematur juga memiliki cadangan kalsium dan fosfat rendah saat keluar rumah sakit sehingga menyebabkan meningkatkan risiko mineralisasi tulang yang buruk, muncul penyakit metabolik tulang, dan turunnya rerata pertumbuhan tulang dibandingkan dengan bayi cukup bulan. Pengukuran antropometri berupa pengukuran BB, PB, LK, dan komposisi tubuh sangat diperlukan dalam mengevaluasi kecukupan tubuh akan nutrisi yang diberikan.8 Air susu ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi yang paling baik untuk BBLR. Beberapa bayi yang karena beberapa hal tidak mendapatkan ASI, memperoleh susu formula sebagai sumber utama nutrisi pada beberapa bulan pertama setelah keluar dari rumah sakit.
Pada saat keluar dari rumah sakit, BBLR yang tidak memperoleh ASI akan memperoleh salah satu dari susu formula yang ada yaitu susu formula standar/standard term formula/SF (jumlah energi 67 kkal/100 ml), susu post discharge formula (PDF, jumlah energi 72 kkal/100 ml) dan susu formula prematur/premature formula (PF, jumlah energi 81 kkal/100 ml). Pada penelitian yang membandingkan susu SF dan PF, ditemukan ada perbedaan yang bermakna dalam hal pertumbuhan, pada susu PF terdapat pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan susu SF tetapi ada juga penelitian yang melaporkan bahwa pemberian susu PF yang berkepanjangan dapat menyebabkan terjadinya hipervitaminosis D dan hiperkalsemia pada bayi prematur pada waktu berikutnya.9-11 Pada penelitian lain5 yang membandingkan susu SF dan PDF menemukan perbedaan yang bermakna dalam hal pertumbuhan yang lebih baik pada BBLR yang memproleh susu PDF dibandingkan dengan SF. Juga tidak didapatkan adanya perbedaan dalam hal mual, muntah, gumoh, atau bowel motion pada kedua kelompok.
Di luar negeri, susu formula yang umum digunakan sebagai susu formula pasca rawat rumah sakit adalah susu SF atau PDF, karena risiko hipervitaminosis dan kelebihan mineral pada susu PF. Susu SF banyak dipakai, karena untuk memperoleh susu selain SF memerlukan resep khusus dari dokter, padahal diketahui bahwa kandungan kalori dan beberapa mineral yang ada kurang memenuhi kebutuhan BBLR.
Di Indonesia penggunaan susu PDF belum banyak diberikan karena masih berasumsi bahwa BBLR yang keluar rumah sakit dapat diberikan susu PF karena mengandung kalori yang lebih tinggi daripada susu SF atau PDF, diharapkan dapat mencapai tumbuh kejarnya. Padahal pemberian PF tidak dapat dilanjutkan mengingat adanya kecenderungan terjadinya hipervitaminosis, kelebihan mineral serta toleransi minum yang kurang baik pada pemberian susu PF jangka panjang. Pemberian PDF memang sangat dianjurkan mengingat komposisinya yang cukup untuk mencapai tumbuh kejar dengan keamanan yang baik. Masalahnya, harga PDF komersial mahal dan hingga saat ini hanya tersedia satu jenis yang beredar di Indonesia (PDF komersial), sehingga timbul suatu ide untuk membuat sendiri. Modifikasi yang dilakukan pada susu SF menjadi PDF, sudah memperhatikan osmolalitas, osmolaritas dan kemampuan ginjal dalam hal kandungan solusi potensial. Osmolalitas masih dalam batasan yang direkomendasikan. Jadi secara singkat untuk membuat susu SF yaitu 1 sendok takar susu ditambahkan ke dalam air sebanyak 30 ml. Sedangkan untuk membuat susu PDF, dengan menambahkan 1 sendok takar susu SF ke dalam 25 ml air, dan untuk membuat susu PF dengan menambahkan 1 sendok takar susu SF ke dalam 20 ml air.


















Kesimpulan
Pertambahan parameter antropometri (BB,PB, dan LK) BBLR yang memperoleh susu PDF modifikasi tidak berbeda dengan susu PDF komersial pada perlakuan yang diberikan selama dua bulan. Pemberian susu PDF modifikasi dapat dijadikan alternatif untuk BBLR yang memerlukan susu PDF. Pada BBLR yang memperoleh susu PDF modifikasi selama dua bulan, tidak timbul reaksi simpang yang berarti. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan subjek yang lebih banyak dan parameter yang lebih lengkap (laboratorium dan radiologi) sehingga pemberian susu PDF ini secara ilmu kedokteran yang berbasis bukti (evidence base medicine) lebih menguatkan penelitian ini. Sambil menunggu penelitian yang lebih lengkap, untuk sarana kesehatan yang tidak tersedia susu PDF komersial, dapat menggunakan susu PDF modifikasi ini dengan tetap memantau adanya reaksi simpang.


Jurnal 2,
Judul : Pengaruh Discharge Planning Terhadap Penambahan Berat Badan Pada Bblr Dalam 3 Bulan Pertama Di Kota Semarang

Discharge planning adalah pengembangan perencanaan yang dilakukan untuk pasien dan keluarga sebelum pasien meninggalkan rumah sakit dengan tujuan agar pasien dapat mencapai kesehatan optimal dan mengurangi biaya rumah sakit. Discharge planning juga dapat membantu keluarga mempersiapkan perawatan bayi dirumah. Pada bayi berat lahir rendah (BBLR) laju pertumbuhan tidak sama dengan bayi berat lahir normal. Hal tersebut dapat berpengaruh pada proses pertumbuhan dan perkembangan. Pemberian nutrisi yang tepat diawal kehidupan, memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan berat badan sehingga
BBLR tumbuh dan berkembang dengan optimal. Penelitian di India melaporkan ada pengaruh positif pemberian konseling tentang cara menyusui terhadap peningkatan berat badan BBLR.
Pemberian air susu ibu (ASI) pada BBLR sangat dianjurkan selain sebagai nutrisi utama, ASI juga berperan dalam sistem pertahan dan meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan, dan mempererat ikatan kasih sayang. Tingginya kasus kematian bayi di Indonesia 40% diakibatkan oleh BBLR. Di RSUD Kota Semarang dan RSUD Adyatma Tugurejo Semarang pada tahun 2010 sampai 2012, BBLR menduduki peringkat pertama dalam 10 besar penyakit di ruang perinatologi. Belum adanya standar operasional prosedur pasien pulang yang mencantumkan discharge planning sebagai bagian pemberian informasi kepada pasien, membuat perawat kurang lengkap memberikan pengetahuan tentang cara perawatan di rumah, kurangnya informasi menjadikan keluarga kurang mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tumbuh kembang BBLR.
Discharge planning berpengaruh secara signifikan terhadap penambahan berat badan pada BBLR. Hal tersebut terlihat pada tabel 2. kelompok discharge planning lebih banyak BBLR dengan BB naik sesuai anjuran WHO (≥ 25 gr/hr) dari pada BBLR pada kelompok discharge rutin. Terlihat pula pemberian ASI penuh berpengaruh terhadap penambahan BB pada BBLR Sedangkan semua variabel luar tidak berpengaruhi terhadap penambahan BB pada BBLR dengan nilai p > 0,05. Tabel 2. menyajikan pengaruh pemberian discharge planning terhadap penambahan BB pada BBLR dalam 3 bulan pertama.
Penambahan rata – rata BB pada BBLR dalam 3 bulan pertama lebih banyak pada kelompok perlakuan dari pada kelompok kontrol, seperti yang ditampilkan dalam Gambar.
Dari beberapa tabel dapat diketahui bahwa discharge planning berpengaruh positif terhadap pemberian nutrisi. Pada variabel bayi sakit juga terlihat perbedaan terhadap pemberian nutrisi. Sedangkan untuk variabel yang lain tidak terdapat perbedaan secara signifikan terhadap pemberian nutrisi. Pada analisis multivariabel pengolahannya menggunakan pemodelan, variabel yang dimasukkan adalah variabel yang pada analisis bivariabel mempunyai nilai p < 0,25 (6). Sebelum dilakukan regresi logistik terlebih dahulu variabel yang dianggap berpengaruh dilakukan stratifikasi untuk mengetahui faktor perancu dengan uji Mantel-Haenszel.
Penelitian ini mencoba untuk melihat pengaruh perlakuan discharge planning terhadap penambahan BB pada BBLR pada 3 bulan pertama sesuai dengan penambahan BB pada BBLR yang dianjurkan oleh WHO. Berdasarkan analisa bivariabel antara discharge planning terhadap penambahan BB pada BBLR terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Discharge planning yang dilakukan pada ibu BBLR secara statistik berpengaruh terhadap penambahan BB pada 3 bulan pertama. Dari perhitungan nilai RR diperoleh hasil 2,2 sehingga dapat dikatakan bahwa discharge planning berpeluang meningkatkan BB pada BBLR sebanyak 2,2 kali dibandingkan discharge rutin. Hal tersebut sesuai dengan penelitian di India yang menyebutkan kelompok perlakuan (ibu yang diberi pendidikan kesehatan mengenai cara menyusui) memperlihatkan kenaikan BB pada BBLR lebih besar dari pada kelompok kontrol dalam 2 bulan pertama.
Penelitian lain terjadi perbedaan BB pada bayi berat lahir normal pada usia 4 bulan pada ibu dengan kelompok intervensi yang diberikan pendidikan kesehatan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan rerata pada kelompok intervensi 6335,4 gr sedangkan pada kelompok kontrol 6054,8 dan nilai p < 0,05. Penambahan BB pada BBLR yang terjadi pada kelompok perlakuan diakibatkan oleh pemberian nutrisi yang tepat sehingga mempengaruhi pertumbuhan bayi. Air susu ibu merupakan pilihan utama pada ibu yang memiliki BBLR. Banyak manfaat yang diperoleh dari ASI, selain kandungan zat gizi ASI sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, ASI juga terbukti mampu mengurangi kejadian stunting pada awal kehidupan. ASI memenuhi semua kebutuhan nutrisi yang diperlukan khususnya untuk pertumbuhan BBLR. Zat gizi yang terkandung didalam seperti macronutrient, vitamin dan mineral mampu menjadikan ASI sebagai nutrisi tunggal yang dibutuhkan bayi. Disamping itu ASI juga mengandung anti bakteri dan mikroba serta berbagai asam amino esensial.
Analisa dari uji statistik pada variabel pemberian nutrisi dengan penambahan BB pada BBLR terlihat bahwa pemberian ASI penuh berpengaruh positif terhadap penambahan BB pada BBLR, penambahan BB pada BBLR yang diberi ASI penuh lebih banyak dari pada BB pada BBLR yang diberi ASI parsial.  Pada penelitian ini selain mengobservasi berat badan sebagai tolak ukur perkembangan BBLR, juga meningkatkan kesediaan ibu melakukan ASI eksklusif. Melalui discharge planning yang dilakukan sebelum bayi pulang dari rumah sakit, dilanjutkan dengan melakukan review tentang cara perawatan BBLR dirumah termasuk cara menyusui, ibu juga diberikan booklet panduan cara perawatan BBLR dirumah sebagai pedoman dalam perawatan bayi mereka. Pemberian booklet juga digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan ibu agar mampu merawat BBLR dan mampu memberikan nutrisi yang adekuat guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan BBLR yang optimal. Pendidikan kesehatan yang diberikan pada discharge planning sangat membantu ibu dalam memberikan perawatan bagi BBLR dirumah, Penelitian yang dilakukan terhadap 867 ibu, setelah dilakukan discharge planning memperlihatkan kesiapan keluarga dalam merawat bayi
mereka. Pendidikan kesehatan yang dilakukan dalam discharge planning mendukung pemberian ASI pada BBLR. Dengan meningkatnya pemberian ASI secara eksklusif maka pertumbuhan bayi menjadi optimal dengan melihat peningkatan BB terutama dalam 2 bulan
pertama.
Pada saat kunjungan ulang, kelompok perlakuan (discharge planning) mendapat review kembali tentang cara perawatan BBLR dirumah, termasuk cara menyusui yang benar, hal inilah yang menyebabkan ibu tetap memilih menyusui bayinya tanpa memberikan makanan tambahan lain. Pengulangan informasi secara terus menerus terbukti mampu memberi penguatan terhadap ingatan menjadikan ibu tetap memilih memberi ASI saja pada bayinya. Selain diberikan review ulang, pemberian booklet tentang cara perawatan BBLR dirumah juga membantu ibu dalam memperoleh informasi yang akurat tentang cara merawat BBLR dirumah termasuk cara menyusui yang benar Berdasarkan hasil analisa bivariabel mengenai pengaruh discharge planning terhadap pemberian nutrisi, menunjukkan bahwa ibu pada kelompok perlakuan lebih banyak yang memberikan ASI penuh pada BBLR dari pada kelompok kontrol.
Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat bahwa kelompok intervensi lebih banyak yang memberikan ASI eksklusif dari pada kelompok kontrol setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang cara menyusui yang benar. Discharge planning yang dilakukan melalui pemberian pendidikan kesehatan, mampu meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan ibu tentang cara perawatan dirumah termasuk tentang cara menyusui yang benar, sehingga ibu akan lebih memilih memberika ASI penuh pada bayinya. Hal yang sama juga disampaikan dalam penelitian yang dilakukan pendidikan kesehatan tentang manfaat ASI menjadikan ibu lebih memilih menyusui bayinya tanpa memberikan makanan tambahan lain. Variabel yang secara signifikan berpengaruh dengan variabel pemberian nutrisi adalah bayi sakit. Sakit yang sering diderita oleh bayi adalah batuk dan pilek. Penyakit tersebut dapat mengganggu pernafasan pada bayi sehingga anak menjadi rewel dan susah menghisap ketika menyusu. Menyusu membutuhkan koordinasi yang baik antara menghisap menelan dan bernafas, pada bayi yang mengalami gangguan pernafasan seperti batuk dan pilek daya hisap bayi tidak efektif sehingga bayi sering menangis atau rewel ketika disusui, dianjurkan untuk ibu memberikan ASI perah ketika menyusui bayinya.
Analisa multivariable menggunakan regresi logistik dipilih model ke 4 karena memiliki nilai adjusted R² yang paling besar , ASI penuh juga berpengaruh secara signifikan terhadap penambahan BB pada BBLR. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ASI penuh kemungkinan meningkatkan BB 16,24 kali dibandingkan ASI parsial. Pada variabel bayi tidak sakit mempunyai OR sebesar 0,6 dengan CI 95% 0,1 – 3,67 dan p 0,582 walaupun secara statistik terlihat tidak bermakna namun dapat disimpulkan bahwa bayi tidak sakit kemungkinan meningkatkan BB pada BBLR sebesar 0,6 kali dibandingkan bayi sakit. Discharge planning merupakan metode yang efektif guna meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara merawat BBLR dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang efektifitas menyusui sehingga ibu memberikan ASI saja hingga bayi berusia 3 bulan, pengetahuan tentang efektitas
menyusui berdampak pada praktek pemberian ASI. Ibu yang memeliki pengetahuan yang baik tentang manfaat menyusui akan melakukan praktek menyusui dengan percaya diri dan tidak memberikan makanan tambahan lain dari pada ibu yang tidak memiliki pengetahuan yang baik.
SIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa discharge planning berpengaruh secara signifikan terhadap penambahan BB pada BBLR dalam 3 bulan pertama. Pemberian discharge planning berpengaruh terhadap pemberian nutrisi, pada ibu yang diberi discharge planning lebih banyak yang memberi ASI penuh kepada BBLR dari pada discharge rutin. Pemberian ASI penuh berpengaruh secara signifikan terhadap penambahan BB pada BBLR dalam 3 bulan pertama. Penambahan BB pada BBLR tidak dipengaruhi oleh pendidikan ibu, pendapatan keluarga, usia gestasi dan penyakit.


Jurnal 3,
Judul: Pengetahuan Ibu Tentang Penatalaksanaan Perawatan Bayi Bblr Di Rumah Di Rskia Kota Bandung

Pengetahuan mengenai penatalaksanaan perawatan bayi BBLR pada aspek memberikan ASI kepada bayi BBLR mencakup dua hal yaitu, manfaat ASI, posisi menyusui, cara pemberian ASI dan waktu pemberian, penyimpanan ASI, penimbangan berat badan bayi BBLR. Pada penelitian Girsang (2009) posisi mulut bayi BBLR saat menyusui penting diperhatikan, agar kebutuhan ASI atau nutrisi pada bayi BBLR terpenuhi dan energi yang digunakan bayi untuk menyusui tidak mengganggu kenyamanan bayi sewaktu menyusu. Untuk menyusui dengan benar dibutuhkan pengetahuan dan pendidikan yang baik pula. Hal ini didukung oleh penelitian Dwi (2009) yang berjudul “Faktor –Faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI pada ibu menyusui di Kelurahan Pangkalan Jati Kecamatan Limo Depok”. Dari penelitian Dwi (2009) didapatkan bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian ASI, dan terdapat juga hubungan antara pendidikan dengan perilaku ibu dalam menyusui.
Semakin baik pengetahuan dan pendidikan, semakin terpenuhi nutrisi bayi BBLR. Dari hasil penelitian dalam hal manfaat, posisi dan cara pemberian ASI hampir sebagian responden berada dalam kategori cukup yaitu sebanyak 22 responden (48,89%). Pada aspek pemberian makanan dan minuman meliputi manfaat ASI, cara menyusui, posisi mulut bayi saat menyusui, kebanyakan responden banyak menjawab pertanyaan yang salah terutama pada item bagaimana cara menyusui dan posisi mulut bayi saat menyusui. Dalam hal waktu pemberian, penyimpanan ASI, dan penimbangan berat badan bayi BBLR sebagian besar ibu berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 26 responden (57,78%).
Menurut Proverawati & Ismawati (2010), bayi BBLR sebaiknya diberikan ASI dengan porsi kecil tetapi sering. Tujuannya agar bayi dapat memperoleh asupan yang cukup dan aman yaitu 1-2 jam sekali. Dalam penyimpanan ASI, sebagian ibu menjawab minimal 2 bulan penyimpanan ASI di kulkas. Menurut Perinasia (2003) penyimpanan ASI yang di keluarkan dapat disimpan untuk beberapa saat. ASI dapat disimpan di lemari es dengan suhu (4oC) selama 24 jam. Dalam hal penimbangan berat badan, sebagian ibu menjawab 3 minggu sekali. Menurut Depkes (2008), penimbangan berat badan pada bayi BBLR harus ditimbang secara rutin setiap hari, dan kenaikan berat badan bayi BBLR minimal 15 gram/kg/hari. Penimbangan berat badan dilakukan setiap hari, untuk melihat apakah terjadi penambahan atau pengurangan berat badan bayi BBLR.

KESIMPULAN
Pada penelitian mengenai gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan bayi BBLR di rumah di RSKIA Kota Bandung, didapatkan kesimpulan bahwa pengetahuan ibu dalam penatalaksanaan perawatan mempertahankan suhu dan kehangatan bayi BBLR berada pada kategori kurang. Dalam penatalaksanaan perawatan memberikan ASI kepada bayi BBLR berada pada kategori cukup. Pengetahuan ibu tentang perawatan mencegah terjadinya infeksi bayi BBLR berada pada kategori kurang.


Jurnal 4,
Judul: Nutrisi Enteral Pada Bayi Dengan Berat Lahir Sangat Rendah
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram, sedangkan bayi berat badan lahir sangat rendah mempunyai berat badan lahir kurang dari 1500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh World Health Organization (WHO) semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut low birth weight infant, sedangkan yang kurang dari 1500 gram disebut very low birth weight infant.
KEBUTUHAN NUTRISI
a.      Energi
Bayi kurang bulan membutuhkan asupan energi yang lebih tinggi dibandingkan bayi cukup bulan karena mempunyai resting energy expenditure yang lebih tinggi dan kehilangan energi melalui fese akibat belum matangnya fungsi absorpsi saluran cerna. Bayi kurang bulan dengan usia kehamilan kurang dari 34 minggu membutuhkan resting energy expenditure sebanyak 50-60 kkal/kgbb/hari. Sedangkan kehilangan kalori dari feses berkisar antara 10-40% dari total asupan kalori tergantung dari jenis diet yang dikonsumsi. Di samping itu masih diperlukan lagi tambahan 50-60 kkal/kgbb/hari untuk mempertahankan pertumbuhan sesuai kurva pertumbuhan intrauterin. Oleh karena itu diperkirakan bayi kurang bulan akan mencapai pertumbuhan yang adekuat bila diberikan asupan sebanyak 120 kkal/kgbb/hari (Tsang et al, 1993).
b.      Cairan
Bila ASI tersedia dan tidak ada indikasi kontra pemberian maka untuk mencapai kecepatan pertumbuhan intrauterin harus diberikan ASI sebanyak 180-200 ml/kg/hari. Untuk memperbaiki pertumbuhan dan mineralisasi tulang ke dalam ASI diberikan fortifikasi (Anderson et al, 1991).
Setiap Pusat Perawatan Neonatal mempunyai protokol tersendiri mengenai tatalaksana nutrisi pada bayi risiko, termasuk juga volume awal pemberian nutrisi enteral. Tabel dibawah ini dapat dijadikan salah satu pedoman untuk memberikan volume awal nutrisi enteral pada bayi risiko tinggi (Anderson et al, 1991).
Perlu diingat bahwa pedoman di atas adalah untuk pemberian secara enteral (dengan pipa naso/orogastrik/transpilorik), sehingga buan mencerminkan kemampuan bayi untuk minum peroral dan harus mempertimbangkan keadaan individual bayi. Pertimbangkan untuk menambah volume agak cepat bila bayi dapat mentoleransi lebih dari 100 ml/khbb/hari, tetapi untuk bayi berat kurang dari 1500 gram penambahan tidak boleh melebihi 30 ml/kgbb/hari (Anderson et al, 1991).
Tabel 1. Jumlah pemberian cairan berdasarkan berat lahir
Berat lahir (gram)
Kecepatan Pemberian (ml/kg/hari)
Penambahan Volume
(ml/kg/hari)
< 800
10
10-20
800-1000
10-20
10-20
1001-1250
20
20-30
1251-1500
30
30
1501-1800
30-40
30-40
1801-2500
40
40-50
>2500
50
50
Sumber : Anderson GH, Atkinson SA, Bryan MH (1991). Energy and macronutrient content of human milk during early lactation from mothers giving birth prematurely and at term. American Journal of Clinical Nutrition;34:258-265
c.       Karbohidrat
Makronutrien ini memberi kontribusi sekitae 41-44% dari seluruh kalori dalam ASI dan sebagian besar susu formula. Di dalam ASI dan susu formula, karbohidrat tersedia dalam bentuk laktosa, yang telah terbukti meningkatkan penyerapan kalsium. Formula kedelai dan susu formula bebas laktosa menngandung karbohidrat dalam bentuk sukrosa, maltodekstrin dan polimer glukosa. Dalam formula bayi kurang bulan untuk mengurangi osmolalitas dan beban laktosa, sebagianlaktosa diganti dengan polimer glukosa. Polimer glukosa dapat ditoleransi dengan baik oleh bayi kurang bulan dengan respons glukosa dan insulin yang sesuai dengan susu yang mengandung laktosa (Anderson et al, 1991).
d.      Protein
Bayi kurang bulan membutuhkan masukan protein kurang lebih sebesar 3,5 kg/kg/hari untuk bayi dengan berat 1200-1500 g dan 4,0 g/kg/hari untuk bayi berat 800-1200 g. Masukan protein melebih 4.0 g/kg/hari akan menyebabkan stres metabolik terhadap bayi kurang bulan. Bukan saja jumlahnya tetapi kualitas protein yang diberikan
juga merupakan faktor penting. Formula bayi kurang bulan yang mengandung predominan protein whei dengan perbandingan 60:40 whei kasein. ASI mempunyai distribusi asam amino yang ideal untuk bayi. Bayi kurang bulan mendapat susu formula atau ASI donor. Ternyata bayi berat lahir rendah yang minum ASI ibunya ditambah dengan forfikasi menunjukkan perbaikan dalam pertumbuhan dan kadar albumin dan prealbumin (transtiretin) serta fosfat darah yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak diberikan fortifikasi (Kashyap dan Heird, 1994).
e.       Lemak
Makronutrien ini merupakan sumber kalori utama untuk bayi, kurang lebih 50% kalori berasal dari sumber lemak. Bayi kurang bulan mempunyai keterbatasan dalam mencerna dan menyerap lemak tertentu. Faktor masih terbatasnya jumlah garam empedu dan enzim lipase pankreas menyebabkan bayi tidak dapat mencerna trigliserida rantai panjang (TRP) terutama dengan panjang rantai karbon 12-14. ASI mengandung garam empedu yang akan merangsang enzim lipase untuk meningkatkan penyerapan lemak di duodenum. Susu formula bayi mengandung lemak jenis TRP yang sulit dicerna oleh bayi, terbentuknya sabun kalsium dalam usus akan menyebabkan kalsium tidak diserap oleh usus. Oleh karena itu diperlukan lemak yang tidak membutuhkan garam empedu untuk emulsifikasinya dan trigliserida rantai menengah (TRM). Formula dengan TRM telah terbukti meningkatkan penyerapan nitrogen, kalsium dan magnesium. Formula bayi kurang bulan mengandung 50% lemak yang berasal dari TRM (Cooke dan Embleton, 2000).
f.       Vitamin (Kalhan dan Price, 1998)
Vitamin larut dalam lemak
Pada saat lahir bayi kurang bulan dengan usia kehamilan kurang dari 36 minggu dilaporkan mempunyai kadar serum retinol lebih rendah dibandingkan bayi cukup bulan. Selanjutnya pada usia 2 minggu kadar plasma retinol dan retinol binding protein makin menurun terutama bila masukan vitamin A tidak adekuat. Retinol telah terbukti esensial untuk pertumbuhan dan diferensiasi sel serta telah dibuktikan pula berperan dalam pencegahan dan pemulihan trauma paru. Defisiensi vitamin A berhubungan dengan perubahan histopatologik pada paru seperti yang terllihat pada displasia bronkopulmoner (BPD). Uji klinik acak buta ganda menunjukkan bahwa pemberian vitamin A 5000 IU (1,5 mg) secara intravena 3 kali seminggu selama 4 minggu meningkatkan status vitamin A, tetapi kurang bermakna dalam hal pencegahan penyakit paru kronik.
Vitamin E
Vitamin E (tokoferol) berfungsi sebagai anti oksidan untuk melindungi ikatan ganda sel lemak. Kebutuhan vitamin E meningkat bila masukan asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid/PUFA) meningkat dan adanya stres oksidasi seperti masukan tinggi zat besi. Defisiensi vitamin E jarang ditemukan pada bayi karena ke dalam susu formula bayi telah diberikan fortifikasi vitamin E untuk mengantisipasi kandungan PUFA. Tetapi bayi yang sedang minum ASI dan mendapat suplementasi besi sebaiknya diberikan vitamin E tambahan. Suplementasi vitamin E selama 1 minggu setelah lahir dapat mencegah perdarahan intrakaranial pada bayi berat lahir sangat rendah. Oleh karena penelitian menunjukkan meningkatnya risiko sepsis dan EKN oada bayi berat lahir sangat rendah dengan kadar vitamin E serum di atas 3.0 mg/dl, maka American Academic of Pediatrics merekomendasikan kadar vitamin E serum harus di antara 1,0-2,0 mg/dl.
Vitamin K
American Academy of Pediatrics merekomendasikan 0’5-1,0 mg vitamin K harus diberikan kepada semua bayi baru lahir sebagai pencegahan terjadinya penyakit perdarahan. Bayi kurang bulan berada dalam risiko tinggi untuk mengalami defisiensi vitamin K akibat rendahnya depo dan penggunaan antibiotika yang luas. Bayi yang mengalami asfiksia ternyata mempunyai vitamin K yang rendah. ASI mempunyai kadar vitamin K yang rendah dan flora usus bayi yang mendapat ASI menghasilkan vitamin K lebih sedikit dibandingkan bayi yang minum susu formula. Oleh karena itu pemberian antibiotika meningkatkan risiko defisiensi formula. Oleh karena itu pemberian antibiotika meningkatkan risiko defisiensi vitamin K pada bayi yang mendapat ASI karena produksi endogen berkurang.
Vitamin larut dalam air
Vitamin B 12 memerlukan kofaktor untuk penyerapannya di ileum distal, oleh karena itu bayi yang mengalami reseksi gaster atau ileum berisiko terjadinya defisiensi. Komplikasi neurologis akibat defisiensi vitamin B 12 biasanya ireversibel.
Kadar asam folat serum mungkin rendah pada bayi kurang bulan. Folat ditambahkan ke dalam multivitamin untuk pemberian intravena dan formula bayi. Asam folat ini tidak tersedia dalam obat tetes multivitamin untuk bayi karena ketidakstabilan sediannya. Folat mempunyai peranan penting dalam sintesis DNA, defisiensi vitamin ini akan mengakibatkan anemia megaloblastik, netropenia, trombositopenia, dan gagal tumbuh.
ASI mempunyai kandungan mineral yang rendah terutama magnesium, kalsium, fosfor, sodium, klorida, dan besi. Defisiensi besi terjadi pada bayi kurang bulan dengan berat kurang dari 2 kg, kecuali diberikan suplementasi 2 mg/kg/hari. ASI mengandung besi dengan bioavaibilitas tinggi tetapi jumlah yang dapat diserap tidak cukup untuk bayi kurang bulan sehingga menyebabkan kadar feritin serum dan hemoglobin rendah pada umur 3 bulan. Bayi prematur yang lebih kecil membutuhkan dosis besi yang lebih tinggi. Bayi berat kurang dari 1 kg membutuhkan 4 mg/kg/hari, setengahnya dipenuhi oleh susu formula yang difortifikasi sedangkan sisanya harus disuplementasi sebesar 2 mg/kg/hari. Suplementasi besi secara oral dapat mempengaruhi metabolisme vitamin E menjadi meningkat terutama yang kadar tokoferol darahnya rendah.
ASI mengandung fluor dalam jumlah sedikit walaupun ibunya mengkonsumsi air yang telah difluorisasi. Dianjurkan untuk memberikan suplementasi fluor sebanyak 0,25 mg sehari pada bayi yang mendapat ASI eksklusif. Komisi Nutrisi American Academic of Pediatrics merekomendasikan suplementasi awal fluor 2 minggu setelah lahir untuk bayi cukup bulan yang mendapat ASI, bayi yang mendapat susu formula bila air dalam rumah tangga tidak mendapat fluorisasi 0,7-1,0 ppm dan bayi yang mendapat formula siap pakai.


Jurnal 5,
Judul: Variability in human milk composition: benefit of individualized fortification in very-low-birth-weight infants

Bayi prematur dapat dibentengi dengan mengkosumsi ASI, dan tumbuh
lebih lambat dari pada yang mengkosumsi formula prematur. perbedaan ini
dapat dikaitkan dengan variabilitas dalam komposisi makronutrien
dari dalam atau kandungan ASI, sehingga asupan gizi yang tidak memadai dalam kaitannya
untuk estimasi kebutuhan bayi prematur.
Beberapa studi telah menunjukkan hubungan kesehatan jangka pendek dan
jangka panjang, serta hasil perkembangan saraf, dan intake kumulatif ASI selama minggu-minggu awal kehidupan bayi. Namun, penggunaan ASI sebagai satu-satunya sumber
nutrisi tidak cukup untuk menutupi kebutuhan gizi yang tinggi tumbuh bayi prematur. ASI memiliki  kandungan protein yang tinggi, meningkatkan pertumbuhan dibandingkan dengan tidak megkosumsi ASI, namun tetap suboptimal untuk mendukung pertumbuhan, terutama rampinggain massa tubuh setelah minggu kedua atau ketiga laktasi. Meskipun berbagai fortifiers ASI dikembangkan untuk meningkatkan protein, energi, mineral, elektrolit, unsur jejak, dan perlengkapan vitamin, penggunaan ASI yang optimal telah gagal untuk mendapatkan pertumbuhan postnatal di kisaran pertumbuhan janin atau yang diamati pada
bayi formula prematur makan.
Dalam penelitian ini, kami menunjukkan bahwa makronutrien dan
Komposisi energi ASI dan tidak ASI digunakan untuk nutrisi pada bayi prematur di NICU sangat bervariasi, yang mengarah ke tingkat tinggi defisit energi dan protein dibandingkan dengan nilai referensi. Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, protein, lemak isi, dan energi berkisar 0,8-2,4 g / dL untuk protein, 1,8-6,6 g / dL untuk lemak, dan 47-85 kkal / dL untuk energi. Selanjutnya, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2, semua OMM setiap hari dan sampel kolam renang HM, 56% adalah , 1,5 g protein / dL, sedangkan 79% adalah, 4 g lemak / dL, dan 67% yang, 67 energi kkal / dL (nilai-nilai yang sering dianggap sebagai referensi nilai untuk komposisi susu prematur). hasil ini berbeda dari nilai referensi baru-baru ini dilaporkan oleh Bauer dan Gerss yang mengevaluasi komposisi nutrisi OMM dikumpulkan membujur dari ibu dari bayi elbow. Didalam studi, mereka menyarankan bahwa dalam OMM antara 28 dan 32 wk kandungan protein bisa setinggi 2,3-1,9 g / dL, sedangkan lemak dan kandungan energi menyumbang 4,4 g / dL dan 77 kkal / dL, masing-masing. nilai-nilai protein susu ibu prematur ini umumnya lebih tinggi pada periode postnatal awal dan penurunan selama menyusui.
Namun, variabilitas yang tinggi tetap antara dan di dalam ibu. Penelitian ini menegaskan 2 pengamatan ini seperti yang ditunjukkan Dalam Angka S2 dan S3 di bawah "Data Tambahan" di online isu. Ekspresi susu tidak lengkap dan manipulasi dari ASI selama ekspresi, penyimpanan, transportasi, dan pengolahan semua faktor tambahan yang mempengaruhi variabilitas tinggi di diekspresikan Komposisi ASI. Memang, dalam praktek klinis, tidak mungkin untuk ibu dari bayi prematur untuk mengikuti pedoman yang ketat dan metodologi seperti yang diusulkan dalam studi prospektif pada komposisi ASI. Kandungan lemak yang sangat terkait dengan manipulasi dan pengolahan antara ekspresi dan pengiriman ke prematur yang bayi. Akibatnya, energi dan protein isinya sejati tak terduga dan berbeda secara signifikan dari yang dihitung dengan menggunakan komposisi tetap untuk ASI atau Non ASI.























Sumber Jurnal

Magdalena, Rita br. Dkk. Pengetahuan Ibu Tentang Penatalaksanaan Perawatan Bayi Bblr Di Rumah Di Rskia Kota Bandung. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran (Jl. Raya Bandung – Sumedang KM. 21 Jatinangor) Email: ritamagdalenatarigan90@yahoo.com 085296002436
Ni Ketut Prami Rukmini, Aryono dkk. (2008) Pertumbuhan Bayi Berat Lahir Rendah yang Memperoleh Susu “Post Discharge Formula” Modifikasi Dibandingkan dengan Susu “Post Discharge Formula” Komersial. Sari Pediatri, Vol. 9, No. 6, April 2008. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RS. Jakarta: Dr. Cipto Mangunkusumo.
Rakhmawati, Nur Dian. dkk (2013). Pengaruh Discharge Planning Terhadap Penambahan Berat Badan Pada Bblr Dalam 3 Bulan Pertama Di Kota Semarang. Jurnal Keperawatan Anak . Volume 1, No. 2, November 2013; 127-134. Faculty of Medicine, Gadjah Mada University,Yogyakarta, Indonesia.
Republished by Klinikmedis. Nutrisi Enteral Pada Bayi Dengan Berat Lahir Sangat Rendah.
Virginie de Halleux and Jacques Rigo (2013). Variability in human milk composition: benefit of individualized fortification in very-low-birth-weight infants. The American Journal of Clinical Nutrition.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar