Nutrisi
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Nama :
Alfian Konadi
NIM :
1311113652
Angkatan :A.2013
Dosen :
Ns. Sri Utami, M.Biomed
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS RIAU
Jurnal 1,
judul; Pertumbuhan Bayi Berat Lahir Rendah
yang Memperoleh Susu “Post Discharge Formula” Modifikasi Dibandingkan dengan
Susu “Post Discharge Formula” Komersial
Bayi berat
lahir rendah (BBLR) memiliki pertumbuhan berat badan (BB), panjang badan (PB)
dan lingkar kepala (LK) yang terlambat pada saat keluar dari rumah sakit,
sehingga memerlukan nutrisi yang khusus. Bayi berat lahir rendah
memerlukan tata laksana nutrisi khusus karena keterbatasan cadangan nutrisi
tubuh, termoregulasi yang belum stabil, imaturitas fungsi organ, potensi
pertumbuhan cepat, serta risiko tinggi terhadap terjadinya morbiditas.1-7 Bayi
prematur juga memiliki cadangan kalsium dan fosfat rendah saat keluar rumah
sakit sehingga menyebabkan meningkatkan risiko mineralisasi tulang yang buruk,
muncul penyakit metabolik tulang, dan turunnya rerata pertumbuhan tulang
dibandingkan dengan bayi cukup bulan. Pengukuran antropometri berupa pengukuran
BB, PB, LK, dan komposisi tubuh sangat diperlukan dalam mengevaluasi kecukupan
tubuh akan nutrisi yang diberikan.8 Air susu ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi
yang paling baik untuk BBLR. Beberapa bayi yang karena beberapa hal tidak
mendapatkan ASI, memperoleh susu formula sebagai sumber utama nutrisi pada
beberapa bulan pertama setelah keluar dari rumah sakit.
Pada saat keluar dari rumah sakit, BBLR yang tidak
memperoleh ASI akan memperoleh salah satu dari susu formula yang ada yaitu susu
formula standar/standard term formula/SF (jumlah energi 67 kkal/100 ml),
susu post discharge formula (PDF, jumlah energi 72 kkal/100 ml) dan susu
formula prematur/premature formula (PF, jumlah energi 81 kkal/100 ml).
Pada penelitian yang membandingkan susu SF dan PF, ditemukan ada perbedaan yang
bermakna dalam hal pertumbuhan, pada susu PF terdapat pertumbuhan yang lebih
baik dibandingkan susu SF tetapi ada juga penelitian yang melaporkan bahwa
pemberian susu PF yang berkepanjangan dapat menyebabkan terjadinya
hipervitaminosis D dan hiperkalsemia pada bayi prematur pada waktu
berikutnya.9-11 Pada penelitian lain5 yang membandingkan susu SF dan PDF menemukan
perbedaan yang bermakna dalam hal pertumbuhan yang lebih baik pada BBLR yang
memproleh susu PDF dibandingkan dengan SF. Juga tidak didapatkan adanya
perbedaan dalam hal mual, muntah, gumoh, atau bowel motion pada kedua
kelompok.
Di luar negeri, susu formula yang umum digunakan
sebagai susu formula pasca rawat rumah sakit adalah susu SF atau PDF, karena
risiko hipervitaminosis dan kelebihan mineral pada susu PF. Susu SF banyak
dipakai, karena untuk memperoleh susu selain SF memerlukan resep khusus dari dokter,
padahal diketahui bahwa kandungan kalori dan beberapa mineral yang ada kurang
memenuhi kebutuhan BBLR.
Di Indonesia penggunaan susu PDF belum banyak
diberikan karena masih berasumsi bahwa BBLR yang keluar rumah sakit dapat
diberikan susu PF karena mengandung kalori yang lebih tinggi daripada susu SF
atau PDF, diharapkan dapat mencapai tumbuh kejarnya. Padahal pemberian PF tidak
dapat dilanjutkan mengingat adanya kecenderungan terjadinya hipervitaminosis,
kelebihan mineral serta toleransi minum yang kurang baik pada pemberian susu PF
jangka panjang. Pemberian PDF memang sangat dianjurkan mengingat komposisinya
yang cukup untuk mencapai tumbuh kejar dengan keamanan yang baik. Masalahnya,
harga PDF komersial mahal dan hingga saat ini hanya tersedia satu jenis yang
beredar di Indonesia (PDF komersial), sehingga timbul suatu ide untuk membuat
sendiri. Modifikasi yang dilakukan pada susu SF menjadi PDF, sudah
memperhatikan osmolalitas, osmolaritas dan kemampuan ginjal dalam hal kandungan
solusi potensial. Osmolalitas masih dalam batasan yang direkomendasikan. Jadi
secara singkat untuk membuat susu SF yaitu 1 sendok takar susu ditambahkan ke
dalam air sebanyak 30 ml. Sedangkan untuk membuat susu PDF, dengan menambahkan
1 sendok takar susu SF ke dalam 25 ml air, dan untuk membuat susu PF dengan
menambahkan 1 sendok takar susu SF ke dalam 20 ml air.
Kesimpulan
Pertambahan
parameter antropometri (BB,PB, dan LK) BBLR yang memperoleh susu PDF modifikasi
tidak berbeda dengan susu PDF komersial pada perlakuan yang diberikan selama
dua bulan. Pemberian susu PDF modifikasi dapat dijadikan alternatif untuk BBLR
yang memerlukan susu PDF. Pada BBLR yang memperoleh susu PDF modifikasi selama
dua bulan, tidak timbul reaksi simpang yang berarti. Diperlukan penelitian
lebih lanjut dengan subjek yang lebih banyak dan parameter yang lebih lengkap
(laboratorium dan radiologi) sehingga pemberian susu PDF ini secara ilmu
kedokteran yang berbasis bukti (evidence base medicine) lebih menguatkan
penelitian ini. Sambil menunggu penelitian yang lebih lengkap, untuk sarana
kesehatan yang tidak tersedia susu PDF komersial, dapat menggunakan susu PDF
modifikasi ini dengan tetap memantau adanya reaksi simpang.
Jurnal 2,
Judul : Pengaruh Discharge Planning Terhadap
Penambahan Berat Badan Pada Bblr Dalam 3 Bulan Pertama Di Kota Semarang
Discharge planning adalah
pengembangan perencanaan yang dilakukan untuk pasien dan keluarga sebelum
pasien meninggalkan rumah sakit dengan tujuan agar pasien dapat mencapai
kesehatan optimal dan mengurangi biaya rumah sakit. Discharge planning juga
dapat membantu keluarga mempersiapkan perawatan bayi dirumah. Pada bayi berat
lahir rendah (BBLR) laju pertumbuhan tidak sama dengan bayi berat lahir normal.
Hal tersebut dapat berpengaruh pada proses pertumbuhan dan perkembangan. Pemberian
nutrisi yang tepat diawal kehidupan, memberikan pengaruh positif terhadap
peningkatan berat badan sehingga
BBLR
tumbuh dan berkembang dengan optimal. Penelitian di India melaporkan ada
pengaruh positif pemberian konseling tentang cara menyusui terhadap peningkatan
berat badan BBLR.
Pemberian air susu ibu (ASI) pada BBLR sangat
dianjurkan selain sebagai nutrisi utama, ASI juga berperan dalam sistem pertahan
dan meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan, dan mempererat
ikatan kasih sayang. Tingginya kasus kematian bayi di Indonesia 40% diakibatkan
oleh BBLR. Di RSUD Kota Semarang dan RSUD Adyatma Tugurejo Semarang pada tahun
2010 sampai 2012, BBLR menduduki peringkat pertama dalam 10 besar penyakit di
ruang perinatologi. Belum adanya standar operasional prosedur pasien pulang
yang mencantumkan discharge planning sebagai bagian pemberian informasi
kepada pasien, membuat perawat kurang lengkap memberikan pengetahuan tentang cara
perawatan di rumah, kurangnya informasi menjadikan keluarga kurang mengerti tentang
pentingnya nutrisi bagi tumbuh kembang BBLR.
Discharge planning berpengaruh secara
signifikan terhadap penambahan berat badan pada BBLR. Hal tersebut terlihat
pada tabel 2. kelompok discharge planning lebih banyak BBLR
dengan BB naik sesuai anjuran WHO (≥ 25 gr/hr) dari pada BBLR pada kelompok discharge
rutin. Terlihat pula pemberian ASI penuh berpengaruh terhadap penambahan BB pada
BBLR Sedangkan semua variabel luar tidak berpengaruhi terhadap penambahan BB
pada BBLR dengan nilai p > 0,05. Tabel 2. menyajikan pengaruh
pemberian discharge planning terhadap penambahan BB pada BBLR dalam 3
bulan pertama.
Penambahan rata – rata BB pada BBLR dalam 3 bulan
pertama lebih banyak pada kelompok perlakuan dari pada kelompok kontrol, seperti
yang ditampilkan dalam Gambar.
Dari beberapa tabel dapat diketahui bahwa discharge
planning berpengaruh positif terhadap pemberian nutrisi. Pada variabel bayi
sakit juga terlihat perbedaan terhadap pemberian nutrisi. Sedangkan untuk variabel
yang lain tidak terdapat perbedaan secara signifikan terhadap pemberian nutrisi.
Pada analisis multivariabel pengolahannya menggunakan pemodelan, variabel yang
dimasukkan adalah variabel yang pada analisis bivariabel mempunyai nilai p <
0,25 (6). Sebelum dilakukan regresi logistik terlebih dahulu variabel yang dianggap
berpengaruh dilakukan stratifikasi untuk mengetahui faktor perancu dengan uji Mantel-Haenszel.
Penelitian ini mencoba untuk melihat pengaruh
perlakuan discharge planning terhadap penambahan BB pada BBLR pada 3
bulan pertama sesuai dengan penambahan BB pada BBLR yang dianjurkan oleh WHO.
Berdasarkan analisa bivariabel antara discharge planning terhadap penambahan
BB pada BBLR terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dengan
kelompok kontrol. Discharge planning yang dilakukan pada ibu BBLR secara
statistik berpengaruh terhadap penambahan BB pada 3 bulan pertama. Dari
perhitungan nilai RR diperoleh hasil 2,2 sehingga dapat dikatakan bahwa discharge
planning berpeluang meningkatkan BB pada BBLR sebanyak 2,2 kali
dibandingkan discharge rutin. Hal tersebut sesuai dengan penelitian di
India yang menyebutkan kelompok perlakuan (ibu yang diberi pendidikan kesehatan
mengenai cara menyusui) memperlihatkan kenaikan BB pada BBLR lebih besar dari
pada kelompok kontrol dalam 2 bulan pertama.
Penelitian lain terjadi perbedaan BB pada bayi berat
lahir normal pada usia 4 bulan pada ibu dengan kelompok intervensi yang
diberikan pendidikan kesehatan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok
kontrol dengan rerata pada kelompok intervensi 6335,4 gr sedangkan pada
kelompok kontrol 6054,8 dan nilai p < 0,05. Penambahan BB pada BBLR
yang terjadi pada kelompok perlakuan diakibatkan oleh pemberian nutrisi yang tepat
sehingga mempengaruhi pertumbuhan bayi. Air susu ibu merupakan pilihan utama pada
ibu yang memiliki BBLR. Banyak manfaat yang diperoleh dari ASI, selain kandungan
zat gizi ASI sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, ASI juga
terbukti mampu mengurangi kejadian stunting pada awal kehidupan. ASI memenuhi
semua kebutuhan nutrisi yang diperlukan khususnya untuk pertumbuhan BBLR. Zat
gizi yang terkandung didalam seperti macronutrient, vitamin dan mineral mampu
menjadikan ASI sebagai nutrisi tunggal yang dibutuhkan bayi. Disamping itu ASI
juga mengandung anti bakteri dan mikroba serta berbagai asam amino esensial.
Analisa dari uji statistik pada variabel pemberian
nutrisi dengan penambahan BB pada BBLR terlihat bahwa pemberian ASI penuh
berpengaruh positif terhadap penambahan BB pada BBLR, penambahan BB pada BBLR
yang diberi ASI penuh lebih banyak dari pada BB pada BBLR yang diberi ASI
parsial. Pada penelitian ini selain
mengobservasi berat badan sebagai tolak ukur perkembangan BBLR, juga meningkatkan
kesediaan ibu melakukan ASI eksklusif. Melalui discharge planning yang
dilakukan sebelum bayi pulang dari rumah sakit, dilanjutkan dengan melakukan review
tentang cara perawatan BBLR dirumah termasuk cara menyusui, ibu juga diberikan
booklet panduan cara perawatan BBLR dirumah sebagai pedoman dalam perawatan
bayi mereka. Pemberian booklet juga digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan
pengetahuan ibu agar mampu merawat BBLR dan mampu memberikan nutrisi yang
adekuat guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan BBLR yang optimal. Pendidikan
kesehatan yang diberikan pada discharge planning sangat membantu ibu
dalam memberikan perawatan bagi BBLR dirumah, Penelitian yang dilakukan terhadap
867 ibu, setelah dilakukan discharge planning memperlihatkan kesiapan
keluarga dalam merawat bayi
mereka.
Pendidikan kesehatan yang dilakukan dalam discharge planning mendukung
pemberian ASI pada BBLR. Dengan meningkatnya pemberian ASI secara eksklusif
maka pertumbuhan bayi menjadi optimal dengan melihat peningkatan BB terutama
dalam 2 bulan
pertama.
Pada saat kunjungan ulang, kelompok perlakuan (discharge
planning) mendapat review kembali tentang cara perawatan BBLR
dirumah, termasuk cara menyusui yang benar, hal inilah yang menyebabkan ibu
tetap memilih menyusui bayinya tanpa memberikan makanan tambahan lain. Pengulangan
informasi secara terus menerus terbukti mampu memberi penguatan terhadap
ingatan menjadikan ibu tetap memilih memberi ASI saja pada bayinya. Selain
diberikan review ulang, pemberian booklet tentang cara perawatan BBLR
dirumah juga membantu ibu dalam memperoleh informasi yang akurat tentang cara
merawat BBLR dirumah termasuk cara menyusui yang benar Berdasarkan hasil
analisa bivariabel mengenai pengaruh discharge planning terhadap
pemberian nutrisi, menunjukkan bahwa ibu pada kelompok perlakuan lebih banyak
yang memberikan ASI penuh pada BBLR dari pada kelompok kontrol.
Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat bahwa
kelompok intervensi lebih banyak yang memberikan ASI eksklusif dari pada
kelompok kontrol setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang cara menyusui
yang benar. Discharge planning yang dilakukan melalui pemberian pendidikan
kesehatan, mampu meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan ibu tentang cara
perawatan dirumah termasuk tentang cara menyusui yang benar, sehingga ibu akan
lebih memilih memberika ASI penuh pada bayinya. Hal yang sama juga disampaikan dalam
penelitian yang dilakukan pendidikan kesehatan tentang manfaat ASI menjadikan
ibu lebih memilih menyusui bayinya tanpa memberikan makanan tambahan lain. Variabel
yang secara signifikan berpengaruh dengan variabel pemberian nutrisi adalah
bayi sakit. Sakit yang sering diderita oleh bayi adalah batuk dan pilek. Penyakit
tersebut dapat mengganggu pernafasan pada bayi sehingga anak menjadi rewel dan
susah menghisap ketika menyusu. Menyusu membutuhkan koordinasi yang baik antara
menghisap menelan dan bernafas, pada bayi yang mengalami gangguan pernafasan
seperti batuk dan pilek daya hisap bayi tidak efektif sehingga bayi sering
menangis atau rewel ketika disusui, dianjurkan untuk ibu memberikan ASI perah
ketika menyusui bayinya.
Analisa multivariable menggunakan regresi logistik
dipilih model ke 4 karena memiliki nilai adjusted R² yang paling besar ,
ASI penuh juga berpengaruh secara signifikan terhadap penambahan BB pada BBLR. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa ASI penuh kemungkinan meningkatkan BB 16,24 kali dibandingkan
ASI parsial. Pada variabel bayi tidak sakit mempunyai OR sebesar 0,6 dengan CI
95% 0,1 – 3,67 dan p 0,582 walaupun secara statistik terlihat tidak bermakna
namun dapat disimpulkan bahwa bayi tidak sakit kemungkinan meningkatkan BB pada
BBLR sebesar 0,6 kali dibandingkan bayi sakit. Discharge planning merupakan
metode yang efektif guna meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara merawat BBLR
dan meningkatkan pengetahuan ibu tentang efektifitas menyusui sehingga ibu memberikan
ASI saja hingga bayi berusia 3 bulan, pengetahuan tentang efektitas
menyusui
berdampak pada praktek pemberian ASI. Ibu yang memeliki pengetahuan yang baik
tentang manfaat menyusui akan melakukan praktek menyusui dengan percaya diri
dan tidak memberikan makanan tambahan lain dari pada ibu yang tidak memiliki
pengetahuan yang baik.
SIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa discharge
planning berpengaruh secara signifikan terhadap penambahan BB pada BBLR
dalam 3 bulan pertama. Pemberian discharge planning berpengaruh terhadap
pemberian nutrisi, pada ibu yang diberi discharge planning lebih banyak yang
memberi ASI penuh kepada BBLR dari pada discharge rutin. Pemberian ASI
penuh berpengaruh secara signifikan terhadap penambahan BB pada BBLR dalam 3
bulan pertama. Penambahan BB pada BBLR tidak dipengaruhi oleh pendidikan ibu,
pendapatan keluarga, usia gestasi dan penyakit.
Jurnal 3,
Judul: Pengetahuan Ibu Tentang
Penatalaksanaan Perawatan Bayi Bblr Di Rumah Di Rskia Kota Bandung
Pengetahuan mengenai penatalaksanaan perawatan bayi
BBLR pada aspek memberikan ASI kepada bayi BBLR mencakup dua hal yaitu, manfaat
ASI, posisi menyusui,
cara pemberian ASI dan waktu pemberian, penyimpanan ASI, penimbangan berat
badan bayi BBLR. Pada penelitian Girsang (2009) posisi mulut bayi BBLR saat
menyusui penting diperhatikan, agar kebutuhan ASI atau nutrisi pada bayi BBLR
terpenuhi dan energi yang digunakan bayi untuk menyusui tidak mengganggu
kenyamanan bayi sewaktu menyusu. Untuk menyusui dengan benar dibutuhkan
pengetahuan dan pendidikan yang baik pula. Hal ini didukung oleh penelitian Dwi
(2009) yang berjudul “Faktor –Faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI pada
ibu menyusui di Kelurahan Pangkalan Jati Kecamatan Limo Depok”. Dari penelitian
Dwi (2009) didapatkan bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan
pemberian ASI, dan terdapat juga hubungan antara pendidikan dengan perilaku ibu
dalam menyusui.
Semakin baik pengetahuan dan pendidikan, semakin
terpenuhi nutrisi bayi BBLR. Dari hasil penelitian dalam hal manfaat, posisi
dan cara pemberian ASI hampir sebagian responden berada dalam kategori cukup
yaitu sebanyak 22 responden (48,89%). Pada aspek pemberian makanan dan minuman
meliputi manfaat ASI, cara menyusui, posisi mulut bayi saat menyusui,
kebanyakan responden banyak menjawab pertanyaan yang salah terutama pada item
bagaimana cara menyusui dan posisi mulut bayi saat menyusui. Dalam hal waktu
pemberian, penyimpanan ASI, dan penimbangan berat badan bayi BBLR sebagian
besar ibu berpengetahuan cukup yaitu sebanyak 26 responden (57,78%).
Menurut Proverawati & Ismawati (2010), bayi BBLR sebaiknya diberikan ASI
dengan porsi kecil tetapi sering. Tujuannya agar bayi dapat memperoleh asupan yang
cukup dan aman yaitu 1-2 jam sekali. Dalam penyimpanan ASI, sebagian ibu
menjawab minimal 2 bulan penyimpanan ASI di kulkas. Menurut Perinasia
(2003) penyimpanan ASI yang di keluarkan dapat disimpan untuk beberapa saat. ASI
dapat disimpan di lemari es dengan suhu (4oC) selama 24 jam. Dalam hal
penimbangan berat badan, sebagian ibu menjawab 3 minggu sekali. Menurut Depkes
(2008), penimbangan berat badan pada bayi BBLR harus ditimbang secara rutin setiap
hari, dan kenaikan berat badan bayi BBLR minimal 15 gram/kg/hari. Penimbangan
berat badan dilakukan setiap hari, untuk melihat apakah terjadi penambahan atau
pengurangan berat badan bayi BBLR.
KESIMPULAN
Pada penelitian mengenai gambaran pengetahuan ibu
tentang perawatan bayi BBLR di rumah di RSKIA Kota Bandung, didapatkan
kesimpulan bahwa pengetahuan ibu dalam penatalaksanaan perawatan mempertahankan
suhu dan kehangatan bayi BBLR berada pada kategori kurang. Dalam
penatalaksanaan perawatan memberikan ASI kepada bayi BBLR berada pada kategori
cukup. Pengetahuan ibu tentang perawatan mencegah terjadinya infeksi bayi BBLR
berada pada kategori kurang.
Jurnal 4,
Judul: Nutrisi
Enteral Pada Bayi Dengan Berat Lahir Sangat Rendah
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir
yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram, sedangkan
bayi berat badan lahir sangat rendah mempunyai berat badan lahir kurang dari
1500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau
sama dengan 2500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh World Health
Organization (WHO) semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang
dari 2500 gram disebut low birth weight infant, sedangkan yang kurang
dari 1500 gram disebut very low birth weight infant.
KEBUTUHAN
NUTRISI
a. Energi
Bayi kurang
bulan membutuhkan asupan energi yang lebih tinggi dibandingkan bayi cukup bulan
karena mempunyai resting energy expenditure yang lebih tinggi dan
kehilangan energi melalui fese akibat belum matangnya fungsi absorpsi saluran
cerna. Bayi kurang bulan dengan usia kehamilan kurang dari 34 minggu
membutuhkan resting energy expenditure sebanyak 50-60 kkal/kgbb/hari.
Sedangkan kehilangan kalori dari feses berkisar antara 10-40% dari total asupan
kalori tergantung dari jenis diet yang dikonsumsi. Di samping itu masih
diperlukan lagi tambahan 50-60 kkal/kgbb/hari untuk mempertahankan pertumbuhan
sesuai kurva pertumbuhan intrauterin. Oleh karena itu diperkirakan bayi kurang
bulan akan mencapai pertumbuhan yang adekuat bila diberikan asupan sebanyak 120
kkal/kgbb/hari (Tsang et al, 1993).
b.
Cairan
Bila
ASI tersedia dan tidak ada indikasi kontra pemberian maka untuk mencapai
kecepatan pertumbuhan intrauterin harus diberikan ASI sebanyak 180-200
ml/kg/hari. Untuk memperbaiki pertumbuhan dan mineralisasi tulang ke dalam ASI
diberikan fortifikasi (Anderson et al, 1991).
Setiap
Pusat Perawatan Neonatal mempunyai protokol tersendiri mengenai tatalaksana
nutrisi pada bayi risiko, termasuk juga volume awal pemberian nutrisi enteral.
Tabel dibawah ini dapat dijadikan salah satu pedoman untuk memberikan volume
awal nutrisi enteral pada bayi risiko tinggi (Anderson et al, 1991).
Perlu
diingat bahwa pedoman di atas adalah untuk pemberian secara enteral (dengan
pipa naso/orogastrik/transpilorik), sehingga buan mencerminkan kemampuan bayi
untuk minum peroral dan harus mempertimbangkan keadaan individual bayi.
Pertimbangkan untuk menambah volume agak cepat bila bayi dapat mentoleransi
lebih dari 100 ml/khbb/hari, tetapi untuk bayi berat kurang dari 1500 gram
penambahan tidak boleh melebihi 30 ml/kgbb/hari (Anderson et al, 1991).
Tabel 1. Jumlah pemberian cairan berdasarkan berat lahir
|
Berat lahir (gram)
|
Kecepatan Pemberian (ml/kg/hari)
|
Penambahan Volume
(ml/kg/hari)
|
|
<
800
|
10
|
10-20
|
|
800-1000
|
10-20
|
10-20
|
|
1001-1250
|
20
|
20-30
|
|
1251-1500
|
30
|
30
|
|
1501-1800
|
30-40
|
30-40
|
|
1801-2500
|
40
|
40-50
|
|
>2500
|
50
|
50
|
Sumber :
Anderson GH, Atkinson SA, Bryan MH (1991). Energy and macronutrient content
of human milk during early lactation from mothers giving birth prematurely and
at term. American Journal of Clinical Nutrition;34:258-265
c.
Karbohidrat
Makronutrien
ini memberi kontribusi sekitae 41-44% dari seluruh kalori dalam ASI dan
sebagian besar susu formula. Di dalam ASI dan susu formula, karbohidrat
tersedia dalam bentuk laktosa, yang telah terbukti meningkatkan penyerapan
kalsium. Formula kedelai dan susu formula bebas laktosa menngandung karbohidrat
dalam bentuk sukrosa, maltodekstrin dan polimer glukosa. Dalam formula bayi
kurang bulan untuk mengurangi osmolalitas dan beban laktosa, sebagianlaktosa
diganti dengan polimer glukosa. Polimer glukosa dapat ditoleransi dengan baik
oleh bayi kurang bulan dengan respons glukosa dan insulin yang sesuai dengan
susu yang mengandung laktosa (Anderson et al, 1991).
d.
Protein
Bayi kurang bulan membutuhkan masukan
protein kurang lebih sebesar 3,5 kg/kg/hari untuk bayi dengan berat 1200-1500 g
dan 4,0 g/kg/hari untuk bayi berat 800-1200 g. Masukan protein melebih 4.0
g/kg/hari akan menyebabkan stres metabolik terhadap bayi kurang bulan. Bukan
saja jumlahnya tetapi kualitas protein yang diberikan
juga merupakan faktor penting. Formula
bayi kurang bulan yang mengandung predominan protein whei dengan perbandingan
60:40 whei kasein. ASI mempunyai distribusi asam amino yang ideal untuk bayi.
Bayi kurang bulan mendapat susu formula atau ASI donor. Ternyata bayi berat
lahir rendah yang minum ASI ibunya ditambah dengan forfikasi menunjukkan
perbaikan dalam pertumbuhan dan kadar albumin dan prealbumin (transtiretin)
serta fosfat darah yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak diberikan
fortifikasi (Kashyap dan Heird, 1994).
e.
Lemak
Makronutrien
ini merupakan sumber kalori utama untuk bayi, kurang lebih 50% kalori berasal
dari sumber lemak. Bayi kurang bulan mempunyai keterbatasan dalam mencerna dan
menyerap lemak tertentu. Faktor masih terbatasnya jumlah garam empedu dan enzim
lipase pankreas menyebabkan bayi tidak dapat mencerna trigliserida rantai
panjang (TRP) terutama dengan panjang rantai karbon 12-14. ASI mengandung garam
empedu yang akan merangsang enzim lipase untuk meningkatkan penyerapan lemak di
duodenum. Susu formula bayi mengandung lemak jenis TRP yang sulit dicerna oleh
bayi, terbentuknya sabun kalsium dalam usus akan menyebabkan kalsium tidak
diserap oleh usus. Oleh karena itu diperlukan lemak yang tidak membutuhkan
garam empedu untuk emulsifikasinya dan trigliserida rantai menengah (TRM).
Formula dengan TRM telah terbukti meningkatkan penyerapan nitrogen, kalsium dan
magnesium. Formula bayi kurang bulan mengandung 50% lemak yang berasal dari TRM
(Cooke dan Embleton, 2000).
f.
Vitamin (Kalhan
dan Price, 1998)
Vitamin larut dalam lemak
Pada
saat lahir bayi kurang bulan dengan usia kehamilan kurang dari 36 minggu
dilaporkan mempunyai kadar serum retinol lebih rendah dibandingkan bayi cukup
bulan. Selanjutnya pada usia 2 minggu kadar plasma retinol dan retinol
binding protein makin menurun terutama bila masukan vitamin A tidak
adekuat. Retinol telah terbukti esensial untuk pertumbuhan dan diferensiasi sel
serta telah dibuktikan pula berperan dalam pencegahan dan pemulihan trauma
paru. Defisiensi vitamin A berhubungan dengan perubahan histopatologik pada
paru seperti yang terllihat pada displasia bronkopulmoner (BPD). Uji klinik
acak buta ganda menunjukkan bahwa pemberian vitamin A 5000 IU (1,5 mg) secara
intravena 3 kali seminggu selama 4 minggu meningkatkan status vitamin A, tetapi
kurang bermakna dalam hal pencegahan penyakit paru kronik.
Vitamin E
Vitamin E (tokoferol) berfungsi sebagai
anti oksidan untuk melindungi ikatan ganda sel lemak. Kebutuhan vitamin E
meningkat bila masukan asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty
acid/PUFA) meningkat dan adanya stres oksidasi seperti masukan tinggi zat
besi. Defisiensi vitamin E jarang ditemukan pada bayi karena ke dalam susu
formula bayi telah diberikan fortifikasi vitamin E untuk mengantisipasi
kandungan PUFA. Tetapi bayi yang sedang minum ASI dan mendapat suplementasi
besi sebaiknya diberikan vitamin E tambahan. Suplementasi vitamin E selama 1
minggu setelah lahir dapat mencegah perdarahan intrakaranial pada bayi berat
lahir sangat rendah. Oleh karena penelitian menunjukkan meningkatnya risiko
sepsis dan EKN oada bayi berat lahir sangat rendah dengan kadar vitamin E serum
di atas 3.0 mg/dl, maka American Academic of Pediatrics merekomendasikan
kadar vitamin E serum harus di antara 1,0-2,0 mg/dl.
Vitamin K
American
Academy of Pediatrics merekomendasikan 0’5-1,0 mg vitamin K harus diberikan
kepada semua bayi baru lahir sebagai pencegahan terjadinya penyakit perdarahan.
Bayi kurang bulan berada dalam risiko tinggi untuk mengalami defisiensi vitamin
K akibat rendahnya depo dan penggunaan antibiotika yang luas. Bayi yang
mengalami asfiksia ternyata mempunyai vitamin K yang rendah. ASI mempunyai
kadar vitamin K yang rendah dan flora usus bayi yang mendapat ASI menghasilkan
vitamin K lebih sedikit dibandingkan bayi yang minum susu formula. Oleh karena
itu pemberian antibiotika meningkatkan risiko defisiensi formula. Oleh karena
itu pemberian antibiotika meningkatkan risiko defisiensi vitamin K pada bayi
yang mendapat ASI karena produksi endogen berkurang.
Vitamin larut dalam air
Vitamin
B 12 memerlukan kofaktor untuk penyerapannya di ileum distal, oleh karena itu
bayi yang mengalami reseksi gaster atau ileum berisiko terjadinya defisiensi.
Komplikasi neurologis akibat defisiensi vitamin B 12 biasanya ireversibel.
Kadar
asam folat serum mungkin rendah pada bayi kurang bulan. Folat ditambahkan ke
dalam multivitamin untuk pemberian intravena dan formula bayi. Asam folat ini
tidak tersedia dalam obat tetes multivitamin untuk bayi karena ketidakstabilan
sediannya. Folat mempunyai peranan penting dalam sintesis DNA, defisiensi
vitamin ini akan mengakibatkan anemia megaloblastik, netropenia,
trombositopenia, dan gagal tumbuh.
ASI
mempunyai kandungan mineral yang rendah terutama magnesium, kalsium, fosfor,
sodium, klorida, dan besi. Defisiensi besi terjadi pada bayi kurang bulan
dengan berat kurang dari 2 kg, kecuali diberikan suplementasi 2 mg/kg/hari. ASI
mengandung besi dengan bioavaibilitas tinggi tetapi jumlah yang dapat diserap
tidak cukup untuk bayi kurang bulan sehingga menyebabkan kadar feritin serum
dan hemoglobin rendah pada umur 3 bulan. Bayi prematur yang lebih kecil
membutuhkan dosis besi yang lebih tinggi. Bayi berat kurang dari 1 kg
membutuhkan 4 mg/kg/hari, setengahnya dipenuhi oleh susu formula yang
difortifikasi sedangkan sisanya harus disuplementasi sebesar 2 mg/kg/hari.
Suplementasi besi secara oral dapat mempengaruhi metabolisme vitamin E menjadi
meningkat terutama yang kadar tokoferol darahnya rendah.
ASI
mengandung fluor dalam jumlah sedikit walaupun ibunya mengkonsumsi air yang
telah difluorisasi. Dianjurkan untuk memberikan suplementasi fluor sebanyak
0,25 mg sehari pada bayi yang mendapat ASI eksklusif. Komisi Nutrisi American
Academic of Pediatrics merekomendasikan suplementasi awal fluor 2 minggu
setelah lahir untuk bayi cukup bulan yang mendapat ASI, bayi yang mendapat susu
formula bila air dalam rumah tangga tidak mendapat fluorisasi 0,7-1,0 ppm dan
bayi yang mendapat formula siap pakai.
Jurnal
5,
Judul:
Variability in human milk composition: benefit of individualized fortification
in very-low-birth-weight infants
Bayi prematur dapat dibentengi dengan mengkosumsi ASI,
dan tumbuh
lebih lambat dari pada yang mengkosumsi formula prematur. perbedaan ini
dapat dikaitkan dengan variabilitas dalam komposisi makronutrien
dari dalam atau kandungan ASI, sehingga asupan gizi yang tidak memadai dalam kaitannya
untuk estimasi kebutuhan bayi prematur.
lebih lambat dari pada yang mengkosumsi formula prematur. perbedaan ini
dapat dikaitkan dengan variabilitas dalam komposisi makronutrien
dari dalam atau kandungan ASI, sehingga asupan gizi yang tidak memadai dalam kaitannya
untuk estimasi kebutuhan bayi prematur.
Beberapa studi telah menunjukkan hubungan kesehatan
jangka pendek dan
jangka panjang, serta hasil perkembangan saraf, dan intake kumulatif ASI selama minggu-minggu awal kehidupan bayi. Namun, penggunaan ASI sebagai satu-satunya sumber
nutrisi tidak cukup untuk menutupi kebutuhan gizi yang tinggi tumbuh bayi prematur. ASI memiliki kandungan protein yang tinggi, meningkatkan pertumbuhan dibandingkan dengan tidak megkosumsi ASI, namun tetap suboptimal untuk mendukung pertumbuhan, terutama rampinggain massa tubuh setelah minggu kedua atau ketiga laktasi. Meskipun berbagai fortifiers ASI dikembangkan untuk meningkatkan protein, energi, mineral, elektrolit, unsur jejak, dan perlengkapan vitamin, penggunaan ASI yang optimal telah gagal untuk mendapatkan pertumbuhan postnatal di kisaran pertumbuhan janin atau yang diamati pada
bayi formula prematur makan.
jangka panjang, serta hasil perkembangan saraf, dan intake kumulatif ASI selama minggu-minggu awal kehidupan bayi. Namun, penggunaan ASI sebagai satu-satunya sumber
nutrisi tidak cukup untuk menutupi kebutuhan gizi yang tinggi tumbuh bayi prematur. ASI memiliki kandungan protein yang tinggi, meningkatkan pertumbuhan dibandingkan dengan tidak megkosumsi ASI, namun tetap suboptimal untuk mendukung pertumbuhan, terutama rampinggain massa tubuh setelah minggu kedua atau ketiga laktasi. Meskipun berbagai fortifiers ASI dikembangkan untuk meningkatkan protein, energi, mineral, elektrolit, unsur jejak, dan perlengkapan vitamin, penggunaan ASI yang optimal telah gagal untuk mendapatkan pertumbuhan postnatal di kisaran pertumbuhan janin atau yang diamati pada
bayi formula prematur makan.
Dalam penelitian ini, kami menunjukkan bahwa
makronutrien dan
Komposisi energi ASI dan tidak ASI digunakan untuk nutrisi pada bayi prematur di NICU sangat bervariasi, yang mengarah ke tingkat tinggi defisit energi dan protein dibandingkan dengan nilai referensi. Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, protein, lemak isi, dan energi berkisar 0,8-2,4 g / dL untuk protein, 1,8-6,6 g / dL untuk lemak, dan 47-85 kkal / dL untuk energi. Selanjutnya, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2, semua OMM setiap hari dan sampel kolam renang HM, 56% adalah , 1,5 g protein / dL, sedangkan 79% adalah, 4 g lemak / dL, dan 67% yang, 67 energi kkal / dL (nilai-nilai yang sering dianggap sebagai referensi nilai untuk komposisi susu prematur). hasil ini berbeda dari nilai referensi baru-baru ini dilaporkan oleh Bauer dan Gerss yang mengevaluasi komposisi nutrisi OMM dikumpulkan membujur dari ibu dari bayi elbow. Didalam studi, mereka menyarankan bahwa dalam OMM antara 28 dan 32 wk kandungan protein bisa setinggi 2,3-1,9 g / dL, sedangkan lemak dan kandungan energi menyumbang 4,4 g / dL dan 77 kkal / dL, masing-masing. nilai-nilai protein susu ibu prematur ini umumnya lebih tinggi pada periode postnatal awal dan penurunan selama menyusui.
Komposisi energi ASI dan tidak ASI digunakan untuk nutrisi pada bayi prematur di NICU sangat bervariasi, yang mengarah ke tingkat tinggi defisit energi dan protein dibandingkan dengan nilai referensi. Seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, protein, lemak isi, dan energi berkisar 0,8-2,4 g / dL untuk protein, 1,8-6,6 g / dL untuk lemak, dan 47-85 kkal / dL untuk energi. Selanjutnya, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2, semua OMM setiap hari dan sampel kolam renang HM, 56% adalah , 1,5 g protein / dL, sedangkan 79% adalah, 4 g lemak / dL, dan 67% yang, 67 energi kkal / dL (nilai-nilai yang sering dianggap sebagai referensi nilai untuk komposisi susu prematur). hasil ini berbeda dari nilai referensi baru-baru ini dilaporkan oleh Bauer dan Gerss yang mengevaluasi komposisi nutrisi OMM dikumpulkan membujur dari ibu dari bayi elbow. Didalam studi, mereka menyarankan bahwa dalam OMM antara 28 dan 32 wk kandungan protein bisa setinggi 2,3-1,9 g / dL, sedangkan lemak dan kandungan energi menyumbang 4,4 g / dL dan 77 kkal / dL, masing-masing. nilai-nilai protein susu ibu prematur ini umumnya lebih tinggi pada periode postnatal awal dan penurunan selama menyusui.
Sumber
Jurnal
Magdalena,
Rita br. Dkk. Pengetahuan Ibu Tentang Penatalaksanaan Perawatan Bayi Bblr Di Rumah Di
Rskia Kota Bandung. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Padjadjaran (Jl. Raya Bandung – Sumedang KM. 21 Jatinangor) Email:
ritamagdalenatarigan90@yahoo.com 085296002436
Ni Ketut Prami Rukmini, Aryono dkk. (2008) Pertumbuhan Bayi Berat Lahir Rendah yang
Memperoleh Susu “Post Discharge Formula” Modifikasi Dibandingkan dengan Susu
“Post Discharge Formula” Komersial. Sari Pediatri, Vol. 9, No. 6, April
2008. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
RS. Jakarta: Dr. Cipto Mangunkusumo.
Rakhmawati,
Nur Dian. dkk (2013). Pengaruh Discharge Planning Terhadap Penambahan Berat Badan Pada Bblr
Dalam 3 Bulan Pertama Di Kota Semarang. Jurnal Keperawatan Anak . Volume 1, No. 2, November 2013; 127-134. Faculty
of Medicine, Gadjah Mada University,Yogyakarta, Indonesia.
Republished
by Klinikmedis. Nutrisi Enteral Pada Bayi
Dengan Berat Lahir Sangat Rendah.
Virginie
de Halleux and Jacques Rigo (2013). Variability
in human milk composition: benefit of individualized fortification in
very-low-birth-weight infants. The American Journal of Clinical Nutrition.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar